Penyadapan Presiden SBY "Indonesia Ngamuk, Australia-Inggris Kok Santai?"


MoslemNewsOne | JAKARTA - Dalam waktu-waktu seperti ini, posisi saya yang berada di Australia memungkinkan untuk memberikan berita mengenai penyadapan SBY dari kacamata Australia. Singkat cerita kita tahu bahwa peristiwa penyadapan ini dipublikasi oleh surat kabar Australia Sydney Morning Herald (Wow…ironic yeah).

Saudara-saudara…mari kita bayangkan. Apa respon pemerintah Australia ketika mengetahui bahwa surat kabar nasionalnya mempublikasi sebuah berita (Tidak peduli benar atau salah) yang menimbulkan ketegangan regional antara dua negara yang saling bertetangga? Pemerintah Australia akan dengan cepat menyudutkan SMH dan meminta pertanggungjawabannya atas tensi antar dua negara yang memanas.

Menteri Luar Negeri Bob Carr atau Kevin Rudd dengan cepat akan menghubungi Presiden SBY (Terlepas dari benar atau salah) atau paling tidak ada pernyataan dari Dubes Australia untuk Indonesia.

Sementara itu Pihak Oposisi, Tony Abbott dipastikan tidak akan melewatkan hal ini dengan sia-sia. Ia akan menyebut bahwa pemerintah Kevin Rudd gemar mencari ribut dengan negara tetangga dan tidak memiliki rasa sensitif. Mungkin juga Abbott si orator ulung akan mendramatisir bagaimana “300 juta umat Muslim berenang menyebrangi Samudra Hindia,” dan bila Australia jatuh kedalam perang maka semuanya adalah salah Kevin Rudd.

Sekadar info, Federal Election atau Pemilu Nasional 2013 hanya dalam hitungan sekitar 2 bulan lagi. Bila Abbott tidak “menggoreng” kesempatan ini maka ia adalah politikus terbodoh yang pernah ada. Ia berkesempatan memainkan psycological fear kedalam para voter dan memenangkan Pemilu. Setelah itu, ia mengadakan perbincangan dengan Presiden SBY sebagai sesama kepala negara dan pulang sebagai “pahlawan” yang mendamaikan kedua negara. Mission Complete.

Namun apa yang saya tulis diatas tidak terjadi. Ketika di Indonesia sudah ramai hingar bingar hingga mengutuk dan menuntut minta maaf, Australia terlihat santai-santai saja. Tidak ada press conference, tidak ada pula pernyataan koreksi. Ada apa ini?

Ah mungkin saja Australia pura-pura diam….biar tidak kelihatan salah bukan? Tapi dengan berita “telanjang” seperti ini seharusnya menjadi santapan nikmat oposisi Coalition yang selama dua masa, dikalahkan oleh Labour.

Berikut adalah berita yang dimuat dari Sydney Morning Herald. Cuma satu, tidak ada update perkembangan apa-apa setelahnya. Saya coba baca teks Inggrisnya. Secara narasumber, Sydney Morning Herald dikatakan mendapat berita ini dari narasumber yang tak lain adalah badan intelijen Australia sendiri.


Berita dan terjemahannya kurang lebih sama seperti yang di Kompas.com. 80%-90% copy paste tapi bedanya hanya dengan terjemahan bahasa saja. Paling yang janggal hanya ini saja: ”Without intelligence support, overwhelmingly provided by US capabilities, we would not have won the seat,” a Department of Foreign Affairs and Trade officer said on the basis of confidentiality.

Ya di judul Kompas jelas tertulis bahwa Australia mendapat jatah kursi Dewan Keamanan berkat menyadap SBY. Namun pada kenyataannya kursi DK PBB non-permanent dirotasi dua tahun sekali berdasarkan kawasan benua masing-masing. Afrika (3 kursi), Asia (2 kursi), Eropa Timur (1 kursi), Amerika Latin & Karibia (2 kursi) dan Eropa Barat (2 kursi).

Berhubung Australia masuk grup Eropa Barat, itu berarti saingan DK Keamanan Australia hanya sesama negara Eropa Barat. Bila Australia (melalui intel Inggris) harus menyadap demi mendapatkan kursi ini maka negara yang harus disadap adalah sesama negara grup Eropa Barat, bukan negara Asia seperti Indonesia, India dan China yang disebut di berita. Masih jadi pertanyaan apa hubungannya kursi DK Keamanan dengan menyadap Presiden SBY.

Respon Australia yang diam-diam saja memang aneh, tapi Indonesia lebih “aneh” lagi responnya. Tidak salah untuk menuntut jawaban pemerintah Australia dan Inggris, tapi apa yang dilakukan Indonesia hanya sebatas wacana. Kenapa mereka tidak langsung bertamu ke Kedubes masing-masing negara untuk diminta pertanggungjawabannya? Urusannya bukan dengan Taiwan atau Israel yang jelas kita tidak punya hubungan diplomatik langsung padahal. Kedubes Australia dan Inggris jelas-jelas ada di Jakarta.


Sumber: Kompasianer-Anjo Hadi
Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Moslem News One - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger